Bazaar

Posted by ery in Opini - (0 Comments)
Bazaar in Kobe

Many places in Indonesia have events called ‘pesta rakyat’ which are usually held at Sunday morning. Not so much different with Indonesia, Japan has such events as well, called ‘bazaar’ or ‘flea market’.

Here in Hyogo prefecture – a place where PPI Kobe is located –  Kobe Harborland, Amagasaki Central Park, Takarazuka Garden, Port Island, Rokko Island, etc are some of the places where you can find bazaar. Those places regularly organize  this kind of event. Bazaar usually starts in the middle of the day and ends at afternoon. People sell their goods by making simple stalls, spreading canvas, and putting their goods on it. Some people may put hangers or tables.

Common items sold in this event are clothes, but you can also find bags, purses, shoes, accessories, dolls, dishes, and many other things. Most of them, especially clothes, are used. They are not new anymore. But don’t worry…you will find fancy mall-qualified clothes, yet, in a very low price. This is the reason why you have to go here.

Some tricks are useful if you want to find clothes with a very very low price. First, – as we all know as an Indonesian – you can always bargain with the seller. However, rumor has it that people will get frowned upon here in Japan if they bargain with Japanese seller. Anyway, that does not work on some of my friends. So, for those who just want to get a very low price, this trick always works.

However, there is another way to get a very very low price in bazaar without being frowned upon by the Japanese. You can start hunting clothes in the afternoon when people are about to close their stalls. Believe me…all you can find is people selling their goods in much more lower price than they do in the beginning. In my own experience, I found a group of teenagers sold their clothes for about 500 yen at the beginning. Then, about one hour later (it was late in the afternoon), they started shouting “hyaku yen desu..!” See…?? It’s way much lower than before! That’s why living in Japan is not completed if you never visit bazaar.

Access to the bazaar is not so much difficult. You can always find the nearest ‘eki’ from the bazaar. FYI, my favourite place is Kobe Harborland because I can enjoy the breeze from the sea while shopping. There is also Kobe Port Tower here where – of course – you can take some pictures to be shown off to your friends that visiting Kobe is not a hoax ^_^  To go to Kobe Harborland, you can go by train and stop at Kobe-eki. From Kobe-eki, walk for about 15 minutes then you can find Kobe Harborland. And, it is highly recommended (especially for women) to walk through the underground site because you can also find malls along the road. If you do not mind to walk further, you can also stop at Sannomiya-eki, and walk for 30 minutes to Kobe Harborland. Don’t forget to stop by at Ikuta Road, China Town and Motomachi which are also shopping destinations.

It’s a fun thing to do during holidays, isn’t it…?!

 

Glossary:

hyaku yen = 100 yen

eki = train station

 

Photo by : Monika

 

Monika Nur Utami Prihastyanti

Master course student in Kwansei Gakuin University, Sanda

Siapakah wanita yang dimaksud?

Kalau kita bicara masalah wanita setia memang tak akan lepas dari Dewi Sinta yang dikenal sebagai sosok istri setia sekaligus pejuang. Berani mengikuti suaminya, tanpa komen apapun ikut suaminya meninggalkan tahta syah Ayodya karena janji sang mertua pada ibu tiri suaminya. Kesetiaannya diuji ketika diculik Rahwana selama beberapa tahun, dibuktikan dengan dibakar. Memang cintanya tak lekang dibakar api. Cerita Ramayana memang terkesan “lebih romantis” daripada cerita Mahabratha, dimana Rama-Sinta dijadikan pusat cerita, sehingga patung pasangan yang dibikin kebanyakan Rama-Sinta mengalahkan Arjuna yang kalau dijadikan patung, pasangannya bisa 14, hehehehehhe. Rama berusaha merebut Sinta melalui pertempuran hidup-mati dibantu oleh para kera pimpinan Sugriwa dan Anoman. Setelah menang, semuanya me”ragu’kan kesetiaan Sinta, mereka tidak tahu bahwa Tuhan melindungi Sinta juga. Doa istri yang setia yang setiap hari hanya berdoa bagi suaminya pasti akan didengar Dewa, makanya Rahwana tidak berhasil “menjamah” Sinta.

Ya, cerita perang besar Ramayana berakhir dengan terujinya kesetiaan Sinta setelah melalui api yang membara. Mungkin dari cerita diatas kita lantas bertanya, OK lah Shinta wanita setia, tapi dimana atau kapan dia menjadi ibu pejuang? Jawabnya adalah setelah dia dan Rama, suaminya kembali menjadi raja di Ayodya. Dia selalu berjuang melawan “image ketidaksetiaan/ketidaksucian” terhadap dirinya. Ya, beberapa tahun setelah jaman ke-emasan Rama di Ayodya, sebuah bencana datang. Kemarau panjang, rakyat mati dan kelaparan.  Dicari berbagai  sebab, sampai pada kecurigaan ketidaksucian Sinta ketika diculik Rahwana. Akhirnya karena paksaan, Rama membuang Sinta yang dalam keadaan mengandung. Disinilah dia berjuang sebagai seorang ibu, membesarkan dua anak kembar agar bisa mendapatkan hak mereka sebagai pewaris Ayodya. Akhirnya entah mengapa, Sinta mati dijepit bumi.

Dewi Anggraheni, mungkin sedikit cerita tentangnya. Tapi kesetiannya teruji ketika dia ditaksir Arjuna (Anak Rebutan Jutaan Nona). Tapi saat itu Dewi Anggraheni sudah menikah dengan Bambang Ekalaya atau Palguna, seorang Raja kecil. Dibandingkan dengan Arjuna, Palguna mesti kalah apapun. Tapi Dewi Anggraheni tetap setia , dia menolak menemui Arjuna, yang semakin hari semakin kelewatan, merasa paling bagus sedunia walaupun pantas dia bilang begitu. Tapi kesalahan utama Arjuna adalah dia mengganggap “mudah” seorang wanita. Akhirnya dia dihajar oleh Palguna, seorang yang punya keahlian luar biasa dalam memanah, melebihi Arjuna. Palguna adalah murid tidak resmi Durna, seorang tokoh kampiun dalam olah kesaktian. Dia belajar dari patung sang Guru, mengandaikan patung tersebut memberi bimbingan kepadanya, sampai dia mendapatkan Cincin Mustika Ampal yang memungkinkan dia memanah dengan dua jempol atau 6 jari pada satu tangannya. Yang pasti Arjuna kalah.

Namun Durna menjanjikan satu hal pada Arjuna, menjadikan Arjuna tokoh paling sakti dalam memanah. Akhirnya Durna menipu Palguna untuk memberikan Cincin Mustika Ampal di jempolnya. Diambilnya cincin tersebut yang berarti matilah dia. Ya sudah… karena kebaktian murid dan keinginan menjadi murid sang Bagawan akhirnya dia rela mati. Sukmanya menitis kepada Drestajumena, seorang senopati  kerajaan Pancala yang nantinya akan membunuh Durna di Baratha yudha. Durna memberikan cincin mustika itu kepada Arjuna. Matinya Palguna membuat Sang Dewi ikut bela pati. Maka matilah dua pasangan tersebut. Memang kalau dilihat kita bisa bilang cerita-nya tidak adil, terlalu memenangkan Arjuna. Hehehe… itulah Mahabaratha, apapun ceritanya Pandawa mesthi menang dan benar. Tapi kesetiaan seorang istri teruji sampai mati, godaan dari laki-laki yang disebut lananging jagad lancuring bawana (Arjuna) bukanlah apa-apa, dibandingkan ikut mati suaminya.

Dewi Sukesi, mungkin bukanlah seorang wanita yang benar-benar “baik” jika dilihat dari sudut wanita setia atau “baik-baik”, tetapi yang pasti dia adalah seorang istri pejuang. Dia putri raja Alengka, cerdas, cantik dan haus ilmu lagi. Dia menetapkan syarat tinggi bagi calon suaminya, yaitu harus bisa mengalahkan Jambungmangli pamannya dan yang lebih berat lagi, bisa mengajarkan ilmu Sastra Jendra Hayuning Diyu, sebuah ilmu terlarang karena teramat sakti, diumpamakan dengan mempelajarinya seorang raksasa bisa berubah jadi manusia, atau manusia sudah tidak butuh Dewa lagi. Danaraja, seorang raja Lokapala meminta ayahnya, Wisrawa, seorang resi utama dan sakti untuk memboyongkan Sukesi. Wisrawa bisa mengalahkan Jambungmangli, nah saat dia mengajarkan ilmu Sastra Jendra tersebut, dunia bergoncang, Dewa panik, alam dunia dan kayangan ribut kayak mau ada tsunami. Turunlah Bathara Guru dan Dewi Umi, masuk dalam tubuh sang Resi dan Sukesi, terjadilah hubungan guru-murid yang berubah menjadi hubungan suami-istri. Ya, itulah kesalahan Sukesi yang mabuk ilmu sampai melupakan derajatnya sebagai seorang wanita, atau kesalahan Wisrawa yang masih mabuk wajah cakep. Bukan itu saja, lahirlah Rahwana atau Dasamuka seorang manusia yang hanya bekerja untuk memenuhi nafsunya, sakti dan tidak bisa mati karena punya Pancasona. Kemudian lahir pula Sapakenaka, raksasa wanita yang juga hidup untuk nafsunya. Tapi apakah cerita akan berakhir di situ?

Wisrawa adalah tokoh cerdik cendekia saat itu, Sukesi adalah putri cantik, cerdas dan berbudi luhur. Lahirnya dua raksasa diibaratkan bukti terseretnya mereka oleh ayunan merdu nafsu. Tapi seiring berjalannya waktu mereka sadar dan memperbaiki diri. Anak ketiga lahirlah Kumbakarna, manusia yang baik akan tetapi sayang wujudnya raksasa, hanya sayang “terlalu peragu terhadap kebenaran”. Baru pada anak keempat lahirlah Gunawan Wibisana, seorang yang akan membawa Alengka pada jaman keemasan, damai dan sejahtera dengan bantuan Rama. Cerita ini sering digambarkan sebagai proses manusia untuk memperbaiki diri. Penggambaran anak-anak Wisrawa-Sukesi mulai dari sosok raksasa angkara murka, sampai ksatria tampan adalah penggambaran perjuangan Sukesi untuk mendapatkan anak yang baik, dan memperbaiki diri. Hehehehhe.. just cerita. Kalau dilihat dari cerita Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dalam menanggapi perang terhadap Rama tentu akan lebih seru lagi. Kumbakarna memilih melawan Rama untuk membela Negara, mengesampingkan nilai-nilai kebenaran, walapun dia sudah berusaha mengingatkan sang kakak. Gunawan Wibisana memilih menyeberang ke kubu Rama, memilih “kebenaran” mengesampingkan hubungan saudara dan tanah-air.  Yang pasti, ceritanya Kumbakarna susah masuk kayangan karena ragu pada kebenaran.

Dewi Supraba, adalah salah satu dari tujuh bidadari yang ditugaskan menggoda Arjuna ketika bertapa di gunung Indrakila, sebelum mendapatkan Pasopati dari Bethara Indra. Ya, salah seorang dari high quality agent-nya para Dewa. Para bidadari walaupun namanya mentereng, tetap saja “hanya” sebagai pemanis cerita wayang, hehehhehe.. Akhirnya dengan panah Pasopati Arjuna berhasil mengalahkan salah satu musuh Dewa dibantu oleh Supraba dari pasukan elit bidadari, dan akan mendapatkan Dewi Supraba sebagai istri. Apa jawab Supraba? Dia menolak, dan memprotes keputusan tersebut. Dia adalah satu-satunya bidadari yang menolak dipersembahkan kepada manusia pahlawan. Memang mereka (Arjuna-Supraba) menjadi suami istri, tapi ceritanya bukan begitu. Cinta tumbuh dari hubungan yang sederajat dari pria dan wanita, bukannya pria di”kasih” wanita. Selama ini bidadari hanyalah cantik namanya doang, nasibnya sama jeleknya, ngga bisa memilih mana cerita terbaik bagi dirinya. Ya, Arjuna bisa menerima. Walaupun beberapa saat kemudian, dia resmi melamar Supraba dan jadilah mereka suami-istri.

Cerita diatas hanyalah segelintir cerita disamping ribuan cerita perjuangan dari sosok yang namanya, wanita atau ibu. Sosok yang tercinta, bukan saja karena salah satu dari mereka adalah istri kita, ibu kita, saudari kita, tetapi karena  merekalah yang membuat dunia berputar.

Nur Arfian

 

Utang pemerintah indonesia hingga Juni 2011 mencapai Rp 1.723,9 triliun. Dalam sebulan utang pemerintah naik Rp 7,34 triliun dibanding Mei 2011 yang sebesar Rp 1.716,56 triliun. Jika dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 saja sebesar 237,6 juta jiwa, tiap orang Indonesia akan menanggung utang sebesar  Rp.7.283.058,-. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia tercatat sebesar 26%. Penyebab utama dari bertambahnya utang ini adalah defisit anggaran yang diterapkan oleh pemerintah, artinya pemerintah lebih banyak melakukan pengeluaran daripada mengumpulkan pemasukan. Perlu dicatat juga, utang luar negeri ini juga disebabkan oleh pihak swasta, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pinjaman luar negeri swasta telah meningkat 12,6% pada kuartal I 2010.

Dari cara pandang ekonom kapitalis, besarnya utang pemerintah menjadi perdebatan yang cukup sengit, ada sebagian ekonom yang memandang bahwa utang publik adalah kutukan, ada sebagian yang lain menilai sebagai sesuatu hal yang menguntungkan selama tidak berlebihan.

Dampak peningkatan utang ini jelas akan menyebabkan beban yang tidak semestinya pada generasi mendatang. Secara logis pemerintah dengan kebijakan fiskalnya akan melakukan penekanan pengeluaran dan penambahan pemasukan atau dengan peningkatan pajak. Penekanan pengeluaran biasanya lebih memilih untuk mereduksi subsidi untuk rakyat. Jadi lengkaplah penderitaan rakyat yang negaranya mengalami defisit anggaran yaitu pajak yang tinggi dan minimnya jaminan penghidupan dari pemerintah karena subsidi akan ditekan sekecil mungkin agar tidak membebani anggaran negara.

Jika sekarang ini pun telah disyahkannya RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), dengan cara pandang ekonomi kapitalis, BPJS akan menguntungkan dan meringankan beban pemerintah jika hal tersebut dilaksanakan. Rakyat akan dibebani asuransi sosial semisal untuk menjamin kesehatan masing-masing orang, dan pemerintah terlepas dari pembiayaan biaya perawatan kesehatan masyarakat. Ketika pembiayaan perawatan kesehatan turun, pengeluaran pemerintah pada program-program ini pun akan turun.

Beberapa alternatif kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah ketika mengalami defisit anggaran adalah: efisiensi pengeluaran pemerintah, meminjam uang (utang), mencetak uang dan dalam jangka panjang akan menaikkan pajak. Efisiensi pengeluaran pemerintah sangat jarang dijadikan sebagai kebijakan utama. Kebanyakan pemerintah lebih memilih dengan menambah utang dan menaikkan pajak dalam jangka panjang, serta mencetak uang sebagai jalan terakhir. Jika pemerintah menerapkan pemotongan pajak maka akan semakin menambah defisit anggaran yang akan ditutupi dengan menaikkan pajak di masa depan, pemotongan pajak bisa dilakukan karena asumsinya agar masyarakat semakin naik pendapatannya dan semakin besar konsumsinya. Akumulasi beban akan terjadi di masa depan, ketika utang negara sudah semakin membesar hingga persentasenya sama dengan PDB negara tersebut.

Dampak kebijakan ekonomi untuk menutupi defisit anggaran yaitu dengan menambah utang atau mencetak uang baru hanya akan menciptkan inflasi bahkan hiperinflasi. Secara politik, mendanai pengeluaran pemerintah dengan berutang membuat proses politik menjadi buruk. Knut Wicksell mengklaim bahwa jika manfaat dari beberapa jenis pengeluaran pemerintah melebihi biayanya, maka adalah mungkin untuk membiayai pengeluaran tersebut untuk merebut suara para pemilihnya. Kemungkinan dari sinilah keruwetan masalah “mafia anggaran” yang terjadi di negara-negara demokrasi. Tingkat utang pemerintah yang tinggi yang didanai oleh utang luar negeri bisa menurunkan pengaruh politis negara dalam percaturan global. Dari gambaran ekonomi secara makro tersebut, kita bisa mengetahui bagaimana asing bisa mendikte sebuah negara yang mempunyai beban utang sangat tinggi melalui syarat-syarat yang mereka ajukan dalam memberikan utang.

Lalu, pertanyaan besar yang muncul. Dari permasalahan pelik tersebut diatas dan warisan utang yang cukup tinggi, bagaimana memberikan solusi terhadap masalah bangsa terkait dengan utang dan bagaimana membangun perekonomian negara?

Perlu diperhatikan, sistem utang dalam sistem kapitalis juga menerapkan riba dan menjadi alat penjajahan bagi negara-negara Kapitalis kepada negara-negara berkembang. Solusi total dalam menyelesaikan hal tersebut haruslah penyelesaian secara kenegaraan oleh negara yang berdaulat dan mandiri sehingga diharapkan mampu keluar dari penjajahan asing (baik penjajahan ekonomi maupun politik) dan secara mandiri mengelola semua potensi ekonomi yang ada di dalam negeri.

Mengatasi krisis utang bisa dilakukan dengan cara:

1)     Tidak membayar bunga utang yang dibebankan karena termasuk riba.

2)     Pembayaran utang tanpa membayar bunga dari bunga (riba) utang. Tanggung jawab membayar utang ini dibebankan kepada para pejabat pemerintahan yang terlibat semasa pengambilan utang. Hal ini dikarenakan mereka menjadi kaya raya semasa pengambilan kebijakan tersebut sehingga perlu dihitung ulang rasionalitas pendapatan mereka. Surplus atau kelebihan kekayaan mereka yang didapatkan dari ketidakwajaran pendapatan atau melebihi yang mereka butuhkan akan ditarik untuk membayar utang, sehingga masing-masing pejabat negara pada waktu itu bisa jadi berbeda dalam pembebanan tanggung jawab utang ini. Mengapa para penguasa (pejabat) yang dibebankan tanggungjawab besar untuk pembayaran hutang tersebut, karena beberapa alasan:

  1. Tanggungjawab penguasa adalah menjaga kepentingan nasional dalam segala aspek termasuk ekonomi.
  2. Pejabat /penguasa tidak diperbolehkan melibatkan diri dalam usaha komersial. Jika dia kaya ketika menjabat maka perlu diaudit kekayaannya karena bisa jadi dia diuntungkan oleh kebijakan mengambil utang tersebut.
  3. Mengambil pinjaman dan melibatkan masyarakat dalam utang adalah perkara yang merugikan dan membahayakan bangsa. Bahaya ini harus dihilangkan dan yang paling bertanggungjawab atas hal ini adalah yang membuat utang.
  4. Tidak membuat utang baru karena ini sangat berbahaya. utang bisa menjadi alat penjajahan dan memperpanjang pengaruh negara asing.

Dengan asumsi bahwa utang sudah terbayar lunas, kemudian bagaimana cara negara mendorong perekonomian tanpa uang baru dan utang baru?

Ada dua jalan untuk menumbuhkan perekonomian tersebut yaitu:

Pertama, membuat kebijakan ekonomi di bidang pertanian, perdagangan dan industri. Di bidang pertanian, negara akan meningkatkan produksi bahan makanan, bahan pakaian (kapas, bulu domba, rami dan sutera), dan produk pertanian yang diminati pasar luar negeri (buah-buahan, kacang-kacangan, dll). Di bidang perdagangan Islam tidak mengambil pajak sehingga tidak perlu memberikan perijinan kepada warga negaranya untuk berdagang kecuali dalam dua kondisi yaitu: negara mencegah berdagang dengan negara yang memerangi Islam dan  juga mencegah komoditas yang membahayakan atau merugikan bangsa. Di bidang perindustrian, negara akan bekerja keras untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk kepentingan dalam negeri dan diekspor. Negara juga fokus untuk menciptakan/membuat mesin-mesin berat guna memproduksi barang-barang industri atau membuat infrastruktur.

Kedua, Institusi keuangan negara (dalam Islam disebut Baitul Mal=hampir sama dengan institusi keuangan dan Central Bank di dunia modern) membiayai pembangunan infrastruktur utama yang penting seperti jalan, gedung sekolah, rumah sakit dan lain-lain yang dibutuhkan oleh masyarakat, serta harus menjaga segala infrastruktur bagi kemaslahatan ummat.

Demikianlah bagaimana bahaya utang luar negeri sebagai bagian dari penjajahan di bidang ekonomi. Dan bagaimana menyelesaikannya di masa datang. Wallahu a’laam

Tri Wahyu

Penulis adalah Mahasiswa MEP-UGM linkage GSICS Kobe University

Kegiatan menikmati keindahan musim gugur yang sering disebut sebagai momiji atau k?y? merupakan kegiatan yang popular dikalangan masyarakat Jepang sejak berabad-abad lamanya seperti halnya hanami (menikmati keindahan bunga sakura di musim semi). Setiap tahun, di mulai pada pertengahan September, perubahan warna daun di musim gugur mulai terdeteksi di wilayah utara Jepang (Hokaido) kemudian terus bergerak ke wilayah selatan sampai musim gugur berakhir, yaitu sekitar akhir November. Namun di wilayah selatan, seperti Osaka, Kobe maupun Kyoto, daun momiji terkadang masih bisa dinikmati hingga awal Desember.

Pilihan pelaksanaan momiji PPI Kobe pada tahun 2011 ini jatuh pada sebuah lokasi yang tidak jauh dari jantung kota Kobe, yaitu Kobe Arboretum (Kobe City Forest Botanical Garden/K?be Shiritsu Shinrin Shokubutsuen). Tempat ini dipilih karena letaknya yang tak jauh dari kota Kobe sehingga memudahkan koordinasi transportasi dan pemandangannya yang terkenal cantik menawan.

Pada tanggal 13 November, pukul 10.30 pagi waktu Kobe, warga PPI Kobe berbondong-bondong menuju Stasiun Sannomiya untuk kemudian menggunakan bus untuk mencapai lokasi momiji. Perjalanan dengan bus kurang lebih memakan waktu sekitar 40 menit. Panitia momiji yang diprakarsai oleh Dewiyani, telah bersiap di pos-pos yang telah ditentukan untuk menghindari resiko tersesat dan tertinggalnya para warga. Tim khusus merangkap perkap yang dikomandoi oleh Dhimas, prof Budi dan Radit pun tampak bersemangat mengatur segala pernak-pernik kebutuhan untuk acara momiji gari. Tepat pukul 11.30 acarapun dimulai dengan beberapa sambutan dan dilanjutkan dengan acara game yang telah dipersiapkan panitia. Game hari itu merupakan garapan apik para warga Nada Dormitory yang baru, yaitu Junaedy, Imel, Hari dan Gahan. Keseruan game tersebut terlihat dari foto-foto yang kami publish dibawah ini. Setelah game yang seru usai, acara dilanjutkan dengan santap bersama ala PPI Kobe. Semua hidangan dikeluarkan, di-pool ditengah lingkaran, kemudian dinikmati bersama oleh seluruh warga PPI Kobe. Setelah makan siang bersama, acara dilanjutkan dengan sholat berjamaah bagi yang menjalankan kemudian acara bebas, yaitu berjalan-jalan menikmati indahnya Kobe Arboretum. Adanya telaga yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang daunnya memerah di taman ini, sungguh menawarkan suatu harmoni keindahan dan kedamaian dengan alam.

 Ery

Foto : Dhimas

Dalam rangka mengimplementasikan salah satu program kerja PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang Korda Kansai, para pelajar PPI Kobe berkeinginan untuk ikut serta secara aktif memberikan sumbangsih pemikiran pada bangsa Indonesia, khususnya mengenai bagaimana membuat sistem pendidikan berkarakter. Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah Indonesia yang saat ini sedang giat mengembangkan pendidikan berkarakter mengimbangi pendidikan keilmiahan dan akademik yang dirasakan kurang berimbang dalam usaha-usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

IJACEF 2011 (Indonesian-Japan Angklung, Culture and Education Festival), sebuah program kerja sama PPI Jepang Korda Kansai, PPI Jepang Komsat Kobe, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Wilayah Kansai yang mengusung bentuk seminar pendidikan dan festival budaya Indonesia, meliputi angklung dan tari tradisional Indonesia, menjadi salah satu forum aktualisasi dan sumbangsih diri para pelajar di Kota “Pintu Tuhan” ( arti harafiah dari Ko-Be) dalam edukasi dan sosiobudaya.

Di seminar pendidikan ini,  hadirin akan bersama-sama belajar dari pakar pendidikan Jepang tentang bagaimana Jepang telah membangun sistem pendidikan yang maju, berteknologi tinggi, berkualitas namun berkarakter dengan tidak meninggalkan akar budaya bangsa Jepang ditengah arus modernisasi dan demokrasi. Sistem ini kemudian akan dibandingkan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang disajikan oleh pakar pendidikan dari Indonesia. Diskusi yang terjalin di antara kedua sistem pendidikan tersebut akan menjadi forum brainstorming  yang menarik dan layak untuk diikuti.

Pada kegiatan budaya, para pelajar PPI Kobe akan lebih memperkenalkan seni budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang, khususnya kesenian musik Angklung yang telah dikenal luas di kalangan masyarakat Jepang di Kobe. Hal ini sebagai jawaban atas rasa cinta dan kepedulian para pelajar di Kobe pada nilai-nilai tradisional Indonesia. Kesenian angklung inipun tidak hanya dimainkan oleh para pelajar PPI Kobe, namun dimainkan pula oleh para pelajar sekolah dasar beberapa sekolah di Kobe dan Sakai, serta masyarakat Jepang penikmat dan perkumpulan angklung di Kota Kobe. Festival budaya ini diramaikan pula oleh pagelaran Tari Likok Pulo dari Aceh serta bintang tamu Para penari Tari Rentak Beliau yang khusus didatangkan dari Provinsi Riau, Indonesia.

Mari kita bersama-sama berpartisipasi dan menghadiri IJACEF 2011 pada tanggal 11 Desmber 2011, bertempat di Hyogo Ryugakusei Kaikan (Hyogo International House), 1-2-8 Wakinohama-cho, Chuo-ku, Kobe-shi. Sebuah event yang akan mengembangkan wawasan kita semua sekaligus menjadi ajang bertukar pikiran dan silahturahmi dengan masyarakat Jepang dalam mendidik serta melestarikan budaya.

 

Salam berbudaya, berkarakter

Salam IJACEF

 

Dian Kesumapramudya N.

PhD Student of Genetic Epidemiology of Pediatric

Graduate School of Medicine

Kobe University 2011

Ada saat untuk berjumpa, namun pasti ada juga saat untuk berpisah. Hal ini nampaknya bisa menggambarkan kondisi di KJRI Osaka pada bulan Juli 2011. Dua staf KJRI Osaka, Bapak Mozes Tandung Lelating (Konsul Protokol dan Konsuler) dan Bapak Sudarman (BPKRT), berpindah tugas, kembali ke Jakarta. Karena hubungan yang telah terjalin begitu mesra antara KJRI Osaka dan PPI Kobe, Kobe BIP Band mendapat kehormatan untuk turut memeriahkan acara perpisahan Pak Mozes dan Pak Darman beserta keluarga pada tanggal 24 Juni 2011, di Wisma Konsul Jenderal RI yang beralamatkan di 3-2-40 Kamokogahara, Higashinada-ku Kobe.

Kobe BIP Band yang dalam kesempatan ini tampil dengan personil lengkap (Dian, Wikan, Surya, Eko, Hengky, dan Yeyes) berbaju batik, membuka acara pada pukul 18.30 dengan lantunan lagu yang masih saja jadi lagu andalan Kobe BIP Band, “Stand by Me” (Ben E King). Acara demi acara berlangsung hangat dan hikmat ditemani beberapa nomor cantik yang populer di jamannya masing-masing, antara lain “Sakura” (dipopulerkan oleh Moriyama Naotaro), “Tsubasa O Kudasai” (?Jyunko Yamamoto), dan “Just the Way You Are” (Bruno Mars). Kobe BIP Band memanjakan telinga hadirin yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga PPI Kansai, perawat, kenkyusei, sampai warga Jepang, termasuk Tatsuta Sensei dan Mori Sensei yang selama ini ikut aktif memperkenalkan budaya Indonesia di Kobe, terutama angklung. Beberapa lagu yang dibawakan Kobe BIP Band mampu menggoyang badan, jempol, dan bahkan lidah hadirin (karena ndengerin sambil makan…hue he he). Kobe BIP Band juga mengiringi bintang tamu mempersembahkan lagu khusus buat Pak Mozes dan Pak Darman. Bintang tamu satu-satunya, yaitu M Badrus Zaman, berhasil melumerkan hati hadirin dengan persembahan lagu “Kenangan Terindah” (Samsons) dan “Yesterday” (The Beatles). Mak nyeeesssss…asoooy…

Tidak hanya lagu-lagu oldies, di pertengahan acara pun Kobe BIP Band didaulat untuk mengiringi Mbak Juliana Cesaria Tandung dan Mbak Leonita Tandung (anak Pak Mozes) menyanyikan lagu anak jaman sekarang berjudul “Hey Soul Sister” (Train). Disambung dengan suara merdu Mbak Adelia Ogantini membawakan lagu lama yang tidak pernah usang oleh waktu “Sepanjang Jalan Kenangan” (Tetty Kadi), serta Pak Darman yang mempersembahkan dua buah lagu, “Kembali ke Jakarta” (Koes Plus) dan “Kucari Jalan Terbaik” (Pance).

Dan meskipun berat untuk mengakhiri acara yang kental dengan suasana akrab dan hangat ini, Lagu Au Lang Syne dimainkan untuk menutup acara perpisahan. Selamat jalan Pak Mozes dan Pak Darman. Selamat bertugas di tempat yang baru. Semoga sukses.

Jadi penasaran mau tau penampilan Kobe BIP seperti apa? Simak video berikut:

*Special thanks to: Pak Mozes atas kenangan buku lagu serta kesempatan untuk tampil dalam setiap acara KJRI Osaka dan juga Pak Darman atas dukungannya selama ini kepada Kobe BIP Band.

-Hengky-

Gempa dan Tsunami Datang, Bazaar Makanan Dadakan-pun digelar

Minggu, 13 Maret 2011, PPI Kobe seharusnya ikut berpartisipasi dalam acara 15th Kobe International Fair 2011 di Space Theater. Kegiatan tahunan tersebut diselenggarakan oleh KICC (Kobe International Center for Cooperation and Communication) dengan tujuan untuk menjalin kerja sama dan komunikasi antar komunitas, serta memperkenalkan budaya asing kepada masyarakat Jepang. Sejak kegiatan tersebut diadakan di Kobe, inilah kali pertama PPI Kobe akan berpartisipasi.

PPI Kobe berencana untuk berjualan makanan khas Indonesia, berjualan souvenir khas Indonesia, memamerkan pakaian daerah Indonesia, dan bermain angklung bersama KIS (Kobe Indonesia Society), kelompok angklung yang dipimpin Mori-San. Maka jauh sebelum hari pelaksanaan, segala persiapanpun telah dilakukan oleh PPI Kobe. Sate ayam, nasi goreng, risoles, molen pisang, dadar gulung maupun klepon akan menjadi menu andalan di acara ini. Baju daerah lengkap dengan aksesorisnya didatangkan jauh-jauh dari KJRI Osaka. Tiga pasang baju daerah untuk dewasa dari Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jakarta, dan beberapa baju daerah untuk anak-anak telah siap untuk diperagakan oleh para model PPI Kobe yang konon terkenal cantik jelita dan tampan luar biasa. Semua souvenir khas Indonesiapun sudah ditempeli label harga dan siap untuk dijual. Para penjaga stand bazaar juga telah menyusun strategi marketing paling jitu, yaitu dari jual-mahal hingga banting harga. Tim angklung PPI Kobe juga tak mau kalah, mereka telah memusatkan konsentrasi penuh untuk latihan dan latihan.

Semua telah dipersiapkan dengan matang, tapi siapa yang menyangka, Jumat, 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9 skala Richter mengguncang Jepang. Gempa yang kemudian diberi nama gempa Tohoku-Chiho Taiheiyo-Oki tersebut disusul oleh tsunami maha dahsyat yang memporak porandakan beberapa daerah di pesisir timur Pulau Honshu. Kerusakan terparah terjadi di Miyagi Perfecture dan ratusan ribu warga Jepang pun tewas. Jepang pun berduka luar biasa. Suasana berkabung begitu terasa di seluruh Jepang. Kegiatan-kegiatan di daerah lain pun dibatalkan demi rasa senasib sepenanggungan.

Sabtu, 12 Maret 2011 siang, panitia 15th Kobe International Fair 2011 mengadakan rapat dadakan dan memutuskan untuk membatalkan acara tersebut. Panitia menghubungi PPI Kobe saat Tim Angklung PPI Kobe sedang melaksanakan latihan bersama KIS, sementara saat itu ibu-ibu PPI Kobe yang dikomandoi oleh Ibu Zainal Imtihan sedang asyik memasak untuk persiapan bazar esok harinya. Namun bagaimanapun juga, the show must go on. Nasi goreng sudah terlanjur dimasak dan sate-pun sudah terlanjur dipanggang. Terhitung 397 tusuk sate sudah siap untuk dipasarkan. Semua makanan harus segera dijual sebelum basi. Akhirnya hari itu diputuskan untuk menjual cepat semua makanan yang telah terlanjur dimasak via telpon dan membuka lapak di mailing list PPI Kobe. Dibukalah bazar makanan dadakan dengan judul “Warung Dadakan Bu Iim, tersedia porsi anak kost, porsi kuli, dan porsi kuli lagi ngekost”, di dapur Hyogo International Residence lantai 4. Dan sungguh menakjubkan, 397 tusuk sate, puluhan porsi nasi goreng, risoles, dan molen pisang habis terjual, tanpa sisa sedikitpun. Mungkin jika tim MURI mampir ke Kobe saat itu, warung ini akan dinobatkan sebagai warung dengan penjualan tercepat karena barang sudah ludes terpesan sebelum sempat dijual secara resmi.

PPI Kobe sekali lagi membuktikan kekompakan dan kekeluargaannya. Memang, acara makan-makan selalu jadi alat paling efektif untuk mengumpulkan warga PPI Kobe. Dari event bazar makanan dadakan ini, alhamdulillah kas PPI Kobe dapat bertambah. Di kemudian hari, acara bazar makanan seperti itu diharapkan dapat digelar sebagai acara internal oleh PPI Kobe secara regular dan lebih terencana. Selain membuat suasana PPI Kobe semakin asyik, tentunya dahaga akan makanan khas Indonesia dapat terpuaskan melalui acara seperti ini.

Ditulis oleh: Hanggoro Tri Rinonce

Pada tanggal 11 Juni 2011, PPI Kobe bersama Mbak Diah Tomimoto kembali diundang untuk ikut mengisi acara kesenian dan budaya, dengan memperkenalkan budaya Indonesia di salah satu Jidoukan atau tempat penitipan anak di daerah Shinkaichi.

Tempat penitipan anak ini diperuntukkan bagi anak-anak sekolah dasar sampai kelas 5, tetapi pada hari itu ada juga beberapa anak-anak sekolah menengah pertama yang mengikuti acara. Keseluruhan anak-anak ada sekitar 28 orang, di bawah bimbingan satu kepala Jidoukan dan sekitar empat orang guru pendamping.

PPI Kobe diwakili oleh Efrina (Ketua PPI), M. Badruz Zaman, Indri dan Mbak Diah Tomimoto berkesempatan untuk memperkenalkan bahasa percakapan sehari-hari kepada anak-anak tersebut. Kata-kata singkat seperti selamat siang, apa kabar, minta maaf, terima kasih, selamat jalan dan selamat tinggal menghiasi dinding ruang kelas, dalam 2 bahasa, Jepang dan Indonesia. Anak-anak pun dengan antusias mempelajari dan mempraktekkan kata-kata tersebut.

Sesi kedua adalah belajar memainkan angklung. Alat musik berbahan dasar bambu yang berasal dari Jawa Barat ini memang cukup mudah untuk dipelajari. Anak-anak pun mendapat bagian masing-masing memegang satu nada. Tiga buah lagu berhasil dipelajari dan dimainkan dengan baik pada hari itu, dua lagu Jepang, Kira Kira Boshi (versi Jepang dari Twinkle Twinkle Little Star) dan Shiawase nara Te O Tatako (Kalau kau suka hati tepuk tangan, ini mungkin versi Indonesianya) dengan mudah dimainkan anak-anak, bahkan ketika harus main tanpa melihat partitur.

Satu lagu Indonesia pun memeriahkan pelajaran angklung pada hari itu, lagu Naik Delman menjadi lagu yang mungkin paling sulit bagi mereka, karena hari itu pertama kali mereka mendengarnya. Anak-anak pun dibagi dua grup, dimulai dengan percakapan menggunakan kata-kata Indonesia yang telah dipelajari, dan acara yang berlangsung selama sekitar dua jam itupun diakhiri dengan memainkan kembali ketiga lagu bersama-sama.

Acara hari itu sangat menyenangkan, karena antusiasme dari anak-anak dan para guru terhadap kebudayaan dan bahasa Indonesia yang sangat tinggi. Semoga program memperkenalkan budaya Indonesia, baik itu kesenian, lagu, maupun permainan tradisional anak-anak bisa dilaksanakan setiap tahun, agar budaya Indonesia yang sangat beragam dan unik bisa dikenal masyarakat internasional, termasuk Jepang.  Dan semoga PPI Kobe, serta pelajar-pelajar Indonesia lain di seluruh dunia bisa menjadi salah satu corong Indonesia dalam memperkenalkan budaya dan karakter bangsa ke kancah dunia. (ir)

 

Aku pernah di sana

Tertatih, merangkak dan berjibaku dengan gelap

Merasa kecil, tak berhak dan terpinggirkan

Menitikkan air mata dan bertanya mengapa

 

Aku ditertawakan? Itu cambuk

Aku dipandang sebelah mata? Itu tantangan

Aku dihina? Itu pembelajaran

Untuk apa berargumentasi dengan keangkuhan

Aku diam untuk pembuktian

 

Ku  jelajah rimba meski gelap tak tersentuh

Ku taklukan gunung menjulang  meski penuh peluh

Ku layari hamparan samudera dengan harapan suatu hari bisa bersauh

 

Dan kini, di sinilah aku tanpa dendam

Memandang dari tempat dia dulu memandang

Sungguh kutak berharap menemukan aku-aku yang lain

Tapi mustahil!!

Terlebih di negeri sepicik ini……

 

Tanpa hasrat berkelakar

Tanpa cacian membakar

Biar kukobar semangatmu

Biar kutaut tanganmu

Supaya engkaupun sampai,

di tempatku berdiri kini

 

-eRy sUkApDji-

Tahun 2007, Majelis Hakim (PN)  Jakarta Pusat memenangkan guagatan kebijakan ujian nasional (UN). Dalam putusan itu majelis hakim menyatakan bahwa pemerintah sebagai tergugat telah lalai memenuhi hak pendidikan warga negara. Tak tanggung-tanggung putusan tersebut menyatakan bahwa presiden, wapres, mendiknas, serta ketua badan Standarisasi Pendidikan Nasional selaku tergugat telah lalai memenuhi  perlindungan HAM terhadap warga negara, terutama hak-hak pendidikan yang tidak didapatkan oleh para siswa yang gagal  menempuh UN.

Memang salah satu problem bangsa yang menghiasi kehidupan di negeri ini adalah pendidikan. Entah mengapa sistem pendidikan di negeri ini selalu menemukan ganjalan. Dunia pendidikan kita masih menjadi  “warna buram” yg menghiasi negeri ini. Padahal jika mengharap perubahan Indonesia agar menjadi lebih maju di masa depan, sesungguhnya hanya dapat dipupuk dengan perubahan pendidikan.. Perubahn pendidikan sangat urgen dilakukan  karena pendidikan merupakan investasi kemanusiaan dan tempat merekayasa sumber daya manusia.

Selain itu pendidikan Indonesia tengah mengalami proses involusi dan bergerak tanpa arah yang jelas. Dari hari ke hari, manusia yang terlibat dalam pendidikan bukannya tumbuh kian cerdas, tetapi mutunya semakin menurun, meski input fasilitas fisiknya terus bertambah. Ketidakjelasan arah pendidikan itu menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak kompetitif lagi dibandingkan dengan pencapaian negara-negaralain, bahkan di wilayah Asia Tenggara sekalipun.

Indonesia mestinya malu dengan beberapa negara seperti Jepang, Amerika, Singapura, dan beberapa negara di Eropa dan Asia lain yang memiliki kualitas pendidkan bagus secara merata. Bahkan dibandingkan dengan Malaysia saja, Indonesia sudah ketinggalan. Padahal di tahun 1970, Malaysia masih mengimpor pegajar dari Indonesia dan masih belajar di Indonesia.

Jika kita membuka lembaran sejarah, diskriminasi pendidikan formal amat terasa di zaman penjajahan. Hanya segelintir orang tertentu (itu pun dari golongan ningrat, berduit, terpandang) yang bisa mengenyam pendidikan. Sebenarnya para perintis keerdekaan berhara melalui  dunia pendidikan, anak-anak bangsa kita tidak lagi bodoh, terbelakang, mudah ditipu, fan gampang dibodohi dalam kehidupan sosial. Sasaran awal dunia pendidikan adalah peningkatan mutu intelektual dan kemuliaan pribadi bangsa.

Realitas mengatakan, dunia pendidikan kita tidak hanya melahirkan kaum cerdik cendekia, tetapi turut memperpanjang deret ”pengangguran” di negeri ini. Tahun 2007, pengangguran diperkirakan mencapai 12,7 juta jiwa shg jml penduduk miskin akan mencapai 45,7 juta jiwa.

Perlu diketahui bahwa krisis kemanusian mulai terjadi bila seseorang tidak mendapat pekerjaan. Akibatnya tidak sedikit di antara mereka siap terjun  ke tempat-tempat yang tidak layak sebagai kaum cendekia.

Lagi-lagi keprihatinan bangsa dapat dilihat pada sistem pendidikan menengah . Sejak diterapkan sistem ”ujian nasional” dan diterapkannya standar kelulusan yg hanya berpatok pada matapelajaran tertentu, mengakibatkan meledaknya jumlah siswa yang tidak lulus. Kondisi tersebut  berakibat terhadap psikologis anak yang pada akhirnya stress, frustasi, dan tidak semangat melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi.

Bagaimanapun fakta tersebut adalah cermin masih carut-marut dan amburadulnya pendidikan kita. Jika ini dibiarkan, maka bukan hal yg mustahil jika bangsa ini akan semakin terpuruk. Pertanyaannya, siapa yang salah dari realtas ini? Apakah pemerinah sebagai pengambil kebijakn sudah sadar dan terbuka nuraninya melihat kondisi ini? Atau malah pura-pura tuli dan buta dan hanya mau coba-coba menerapkan sistem yang justru menjerumuskan  anak didik? Jawabannya bisa kita lihat pada realitas saat ini.

Politisasi Pendidikan

Perlu diketahui bahwa dunia pendidikan formal kerap tak bisa dipisahkan dengan keadaan politik negara kita. Bahka dunia pendidikan sering dijadikan sebagai penunjang dan alat pencapaian politik yang mengarah kepada popularitas.

John S Brubacher, guru besar pewndidikan dari Michigan University, mengatakan bahwa dunia pendidikan  formal kini dipengaruhi oleh politik abad ke-20 yang umumnya menerapkan pentingnya pembagian kekuasaan politik. Dimensi keadilan sosial mendapat sorotan tajam  sepanjang abad silam.

Kita sendiri pernah mengalami sistem pemerintahan orde baru yang telah membekas pada benak kita semua. Saat itu, antara lain penerapan nilai-nilai dasar falsafah bangsa (Pancasila) dilalkukan secara paksa, hanya formalisme yang tidak memberikan pengaruh besar pada kehidupan manusia.

Usaha mengorbankan pendidikan untuk mencapai popularitas penguasa tampak juga di era reformasi. Dengan dalih demi meningkatkan kualitas pendidikan, kurikulum berganti semaunya, sistem pendidikan coba-coba dirombak walau banyak memakan korban. Asalkan pemerintah dicap “lebih maju”,”lebih populer”, walau menari di atas penderitaan rakyat.

Alhasil, dunia pendidikan formal yang hanya bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa diimbangi penanaman nilai-nilai keluhuran martabat manusia, belum memberikan sumbangan besar bagi perwujudan masyarakat adil dan makmur. Proses pendidikan kita umumnya lebih mendahulukan dimensi kognitif, sementara dimensi humaniora dilalaikan. Prestasi akademik diutamakan, pembinaan manusia sebagai pribadi  luhur diabaikan.

Seharusnya, sistem pendidikan negara kita yang berlandaskan  Pancasila justru menjadikan dunia pendidikan sebagai ”investasi kemanusiaan”. Nilai dasar keluhuran kemanusiaan menuju “kemulaiaan pribadi” harus menjadi acuan sistem pendidikan kita.

Sementara itu, ada delapan masalah pendidikan yang harus menjadi perhatian. Kedelapan masalah itu menyangkut kebijakan pendidikan, perkembangan anak Indonesia, guru, relevansi pendidikan, mutu pendidikan, pemerataan, manajemen pendidikan, dan pembiayaan pendidikan. Permasalahn tersebut sudah teridentifikasi dalam skala berbeda dalam Penelitian Nasional Pendidikan (PNP) pada tahun 1969,saat sekitar 100 pakar pendidikan dari seluruh Indonesia berkumpul di Cipayung. Namun, setelah lebih dari 30 tahun berlalu, perubahaan belum banyak.

Dengan demikian, pemerintah sebagai pengambil kebijakan harus segera sadar bahwa nilai kemanusiaan merupakan faktor yang harus diperhitungkan sebagai standar keberhasilan pendidikan, bukan terjebak pada standar kecerdasan yang mengabaikan nilai luhur manusia itu sendiri. Seyogianya, pendidikan di negeri ini harus segera diperbaharui demi terwujudnya masa depan bangsa yang kita idamkan bersama.

 

 

 

 

M. Badrus Zaman
Doctoral Student: Marine Engineering, Kobe university